Beberapa waktu belakangan ini, Indonesia memiliki curah hujan yang sangat tinggi, bahkan di beberapa wilayah hujan yang lebat telah menyebabkan banjir.tak terkecuali di Desa Pengkol Kecamatan Penawangan Kabupaten Grobogan

Keberadaan hujan ini sebenernya sangat ditunggu-tunggu oleh para petani, terkhusus adalah para petani padi. Namun di lain sisi, musim hujan ini juga seringkali menyusahkan para petani karena keberadaan OPT yang mulai bermunculan untuk menyerang pertanaman padi.

Kira-kira serangan opt seperti apa saja yang akan mengintai tanaman padi saat musim hujan tiba? Berikut beberapa diantaranya.

Wereng

Hama wereng adalah hama utama tanaman padi lain yang sering menyerang di saat musim hujan. Hama wereng ada beberapa macam diantaranya yaitu wereng coklat, wereng hijau dan wereng loreng. Wereng ini menyerang tanaman padi mulai dari persemaian hingga padi mau dipanen dengan cara menghisap cairan yang ada pada bagian pelepah daun padi.

Tindakan kuratif adalah tindakan pengendalian hama wereng coklat dengan cara menggunakan insektisida yang direkomendasikan. Tindakan ini bukan merupakan langkah pencegahan lagi tetapi merupakan langkah pembasmian. Langkah ini bisa dilakukan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif buprofen, BPMC, fipronil, amitraz, bupofresin, karbofuran, karbosulfan, metalkarb, MIPCI, propoksur atau liarnetoksan dan imidakloprid.

Penggunaan insektisida berbentuk serbuk/butiran (misal : furadan, basudin, diazinon) dilakukan dengan menaburkan diantara larikan petak sawah 3 atau 4 minggu sekali. Penyemprotan insektisida cair dilakukan seminggu sekali atau maksimal 10 hari sekali. Semua penggunaan insektisida harus memperhatikan aturan dosis dan pakai yang tertera pada setiap produk yang digunakan.

Perkembangan wereng coklat pada pertanaman padi terbagi menjadi empat generasi yaitu ; generasi 0 (G0) = umur padi 0 – 20 HST, Generasi 1 (G1) = umur padi 20 – 30 HST (wereng akan menjadi imago wereng coklat generasi ke-1), generasi 2 (G2) = umur padi 30 – 60 HST (wereng akan menjadi imago wereng coklat generasi ke-2), dan generasi 3 (G3) = umur tanaman padi di atas 60 HST.

Pengendalian wereng yang baik dilakukan pada saat generasi nol (G0) dan generasi 1 (G1) dengan mengunakan insektisida berbahan aktif seperti disebutkan di atas. Pengendalian saat generasi 3 (G3) atau puso tidak akan berhasil.

Penggunaan insektisida juga harus memperhatikan faktor-faktor ; tepat dosis dan jenis yaitu berbahan aktif seperti disebutkan di atas, tepat air pelarut 400 – 500 liter air/ha, aplikasi insektisida dilakukan saat air embun tidak ada antara pukul 08.00 – 11.00 dilanjutkan sore hari, insektisida harus sampai pada batang padi. Dan tidak kalah pentingnya adalah keringkan pertanaman padi sebelum aplikasi insektisida baik yang berupa semprotan maupun butiran.

Hama Penggerek Batang Padi

Salah satu faktor penghambat dalam meningkatkan produktivitas padi diantaranya adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). OPT utama pertanaman padi di Badung antara lain; tikus, penggerek batang, wereng batang coklat (WBC), walang sangit, keong mas, blas, hawar daun bakteri (HDB). Hama penggerek batang (stem borer) di Badung sampai saat ini merupakan hama utama dan penting pada pertanaman padi karena sering menimbulkan kerusakan berat dan kehilangan hasil yang tinggi. Hama ini dapat merusak tanaman padi pada semua fase pertumbuhan, mulai pada saat di pembibitan, fase anakan sampai fase pembungaan. Serangan pada pembibitan dan fase anakan menyebabkan kematian anakan muda hama ini disebut sundep. Jika serangan sundep pada fase tersebut kurang dari 5 %, kehilangan hasil tidak terlalu besar karena tanaman padi masih dapat membentuk anakan baru. Jika serangan pada fase pembungaan menyebabkan malai tampak putih dan hampa disebut beluk.

Jenis Hama Penggerek Batang Padi :

Di lapangan sering ditemukan 3 spesies hama penggerek padi yaitu penggerek batang padi kuning (Scirpophaga incertulas), penggerek batang putih (S. innotata) dan penggerek batang bergaris (Chilo suppressalis). Sampai saat ini belum ada varietas padi yang tahan terhadap hama penggerek bantang. Oleh karenanya gejala serangan perlu diwaspadai, terutama pada saat musim penghujan. Ketiga jenis hama tersebut memiliki ciri-ciri dan sifat yang berbeda dalam penyebaran dan bioekologinya. Akan tetapi ketiga jenis hama tersebut memiliki kesamaan dalam hal menyerang tanaman serta akibat yang ditimbulkannya. Semua spesies hama penggerek batang padi dalam siklus hidupnya memiliki masan metamorfose sempurna mulai dari fase telur, larva, pupua dan ngengat. Pada fase larva yang berperan menjadi hama, karena dalam hidupnya memperoleh makanannya dengan cara menggerek tanaman padi dan menimbulkan kerusakan.

Gejala Serangan :

Hama penggerek batang adalah salah satu hama berbahaya pada tanaman padi, karena hama ini bisa menyerang tanaman padi mulai dari persemaian, fase vegetatif, fase generatif hingga menjelang panen. Kerugian yang besar terjadi bila penerbangan ngengat bersamaan dengan fase tanaman bunting. Adapun gejala serangan hama penggerek batang padi adalah; (1) pada tanaman fase vegetatif, larva memotong bagian tengah anakan menyebabkan pucuk layu, mengering dan pada akhirnya mati, (2) pada fase generatif, menyebabkan malai muncul putih.

Strategi Pengendalian :

1. Pengaturan Pola Tanam

Waktu tanam yang tepat merupakan cara yang efektif untuk menghindari serangan penggerek batang. Hindari penanaman padi pada bulan-bulan Desember – Januari, karena suhu, kelembaban dan curah hujan pada saat itu sangat cocok untuk perkembangan hama penggerek batang, sementara tanaman padi yang baru ditanam sangat sensitif terhadap hama tersebut. Pengaturan waktu tanam yaitu berdasarkan penerbangan ngengat atau populasi larwa di tunggul tanaman padi.

Penanaman padi tidak dianjurkan bertepatan dengan puncak penerbangan ngengat. Penanaman padi bisa dilakukan pada 15 hari setelah puncak penerbangan ngengat. Tanam serempak untuk menghindari sumber makanan bagi hama penggerek batang padi. Dalam satu hamparan kelompok tani batas waktu tanam awal dan akhir sebaiknya paling lama 15 hari. Pergiliran tanaman padi dengan tanaman bukan padi untuk memutus siklus hidup hama penggerek batang padi.

2. Pengendalian Secara Mekanis

Pengendalian penggerek batang padi dapat dimulai sejak di persemaian sampai di pertanaman, dengan cara mengumpulkan kelompok telur. Jika terlihat penerbangan imago/ngengat pada sore hari, pengendalian dilakukann dengan cara penangkapan dengan lampu perangkap pada malam harinya (lampu patromak/lampu lain yang dikombinasikan dengan pemasangan bak penampang yang telah di isi dengan minyak/detergen).

Aplikasi insektisida karbofuran apabila terjadi gejala serangan penggerek batang yang mengkhawatirkan di persemaian. Memusnahkan tanaman yang menujukan gejala sundep atau beluk. Pada saat panen padi, diupayakan pemotongan tanaman serendah mungkin sampai permukaan tanah, kemudian diikuti dengan penggenangan air setinggi 10-15 cm agar pangkal jerami cepat membusuk sehingga larva atau pupa mati. Pada saat pratanam diupayakan sanitasi lingkungan dengan baik.

3. Pengendalian Hayati

Pemanfaatan musuh alami parasitoid dengan melepas parasitoid telur seperti Trichogramma japonicum dengan dosis 20 pias/ha sejak awal pertanaman.

4. Pengendalian Secara Kimiawi

Pengendalian dengan insektisida segera dilakukan, jika > 10 % rumpun padi memperlihatkan gejala sundep atau beluk. Atau penggunaan insektisida dapat dilakukan pada saat setelah ada penerbangan ngengat atau intensitas serangan sundep rata-rata > 5 %. Penggunaan insektisida butiran di persemaian dilakukan jika sekitar pertanaman ada lahan yang sedang atau menjelang panen pada satu hari sebelum tanam. Pada pertanaman, insektisida butiran diberikan terutama pada stadium vegetative dengan dosis 7,5 kg insektisida granula/ha.

Pada stadium generatif aplikasi dengan insektisida cair. Insektisida butiran yang direkomendasikan adalah yang mengandung bahan aktif klorantraniliprol (Ferterra), fipronil. Klorantraniliprol (Ferterra), aplikasinya dengan dosis 7,5 kg per hektar dapat ditabur bersama dengan pupuk pada umur 7-14 HST, ramah terhadap organisme non-target (ikan, cacing, belut, dan katak), dan menjaga keseimbangan ekosistem, sehingga tanah tetap gembur untuk pertanian berkelanjutan.

Insektisida cair (semprot) yang direkomendasikan adalah yang berbahan aktif klorantraniliprol, fipronil, dimehipo dan bensultaf. Perlu diperhatikan, bahwa sebelum menggunakan produk pestisida, agar membaca dan memahami informasi yang tertera pada tabel yang ada di kemasan.

Tikus

Tikus (Rattus argentiventer) adalah hama tanaman yang sering muncul pada saat hujan. Cara mengendalikan tikus yang paling efektif adalah dengan melakukan pengolahan tanah secara bersama-sama sebelum lahan tersebut belum ditanami.

Untuk pengendalian lainnya dapat dilakukan dengan Strategi Pengendalian Hama Tikus

Penyakit kresek

Penyakit Kresek pada Tanaman Padi
Berbeda dengan penyakit blas yang disebabkan oleh jamur, penyakit kresek atau yang biasa disebut dengan Hawar Daun Bakteri (BLB) justru disebabkan oleh bakteri.

Penyakit kresek pada tanaman padi disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae, yang dimana serangan oleh bakteri ini dapat mengakibatkan kerusakan tanaman dan juga dapat menurunkan hasil produksi tanaman padi. Bahkan, dalam serangan berat dapat mengakibatkan terjadinya puso. Serangan penyakit ini dapat terjadi pada fase bibit, tanaman muda dan tanaman tua.

Bila serangan terjadi pada awal pertumbuhan, tanaman menjadi layu dan mati, gejala ini disebut kresek. Gejala kresek sangat mirip dengan gejala sundep yang timbul akibat serangan penggerek batang pada fase tenaman vegetatif. Pada tanaman dewasa penyakit hawar daun bakteri menimbulkan gejala hawar (blight).

Gejala kresek dimulai dari tepi daun, berwarna keabu-abuan dan lama-lama daun menjadi kering. Bagian yang kering ini akan semakin meluas ke arah tulang daun hingga seluruh daun akan tampak mengering. Bila serangan terjadi saat berbunga, proses pengisian gabah menjadi tidak sempurna, menyebabkan gabah tidak terisi penuh atau bahkan hampa. Pada kondisi seperti ini kehilangan hasil bisa mencapai 50-70 persen.

Penyakit kresek termasuk dalam kategori penyakit yang terbawa benih. Artinya, apabila benih tanaman padi berasal dari tanaman yang terinfeksi, maka penyakit akan berkembang pada pertanaman selanjutnya. Selain benih, penyakit kresek juga bisa ditularkan melalui air, angin dan alat-alat pertanian.

Perkembangan penyakit hawar daun bakteri/kresek sangat dipengaruhi oleh kelembaban tinggi dan suhu rendah (20-22oC). Itu sebabnya pada musim hujan yang sehari-harinya tertutup awan, penyakit ini akan berkembang sangat baik.Di sisi lain, tingkat keparahan penyakit kresek juga dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya:

Pemupukan nitrogen yang tinggi
Kondisi cuaca (angin kencang, hujan)
Perkembangan meningkat seiring pertambahan umur tanaman
Fase pembungaan merupakan periode kritis peningkatan keparahan penyakit.
Varietas rentan penyakit kresek

Jika ternyata sudah terlanjur terjadi serangan kresek, maka tindakan pengendalian harus segera dilakukan. Pengendalian penyakit kresek dapat dilakukan dengan berbagai cara, namun yang perlu diperhatikan adalah pengendalian sebaiknya dilakukan dengan menggunaan prinsip Pengelolaan Hama Terpadu (PHT). Dalam hal ini pengendalian harus memperhatikan keseimbangan ekosistem, dan penggunaan pestisida kimia sebagai alternatif terakhir.

Prinsip pengendalian yang dapat dilakukan adalah:

Penggunaan benih dan bibit sehat
Penggunaan agens hayati Corynebacterium atau Paenybacillus polymyxa pada benih, umur 14, 28 dan 42 hst dengan dosis 5 cc per liter
Pemupukan berimbang, hindari pemupukan N berlebihan, sedangkan P dan K yang cukup
Hindari pemupukan saat tanaman memasuki fase bunting
Sanitasi lingkungan dan gulma inang
Pengairan berselang (satu hari digenangi, tiga hari dikeringkan)
Penggunaan pestisida bila serangan sudah mencapai ambang pengendalian yaitu bisa menggunakan bahan aktif agrimicin (2 cc per liter) atau tembaga hidroksida pada saat umur 14 hst, 24 hst dan 48 hst.

Waspada Serangan OPT Padi saat Musim Hujan
Tag pada:        

487 gagasan untuk “Waspada Serangan OPT Padi saat Musim Hujan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *