Pengkol 10/09/2019
Hari Asyura adalah hari ke sepuluh pada setiap bulan Muharram, tahun ini jatuh pada tanggal 10 September 2019. warga Masyarakat Desa Pengkol mengadakan Santunan Anak Yatim dan shodaqoh berupa ” Bubur Asyura ” Kuliner yang selalu ada saat hari besar ini adalah Bubur Asyura, biasanya digunakan sebagai hidangan buka bagi masyarakat yang melaksanakan puasa. Lalu, apalagi yang menarik dari tradisi bubur Asyura ini? Benarkah sejarahnya bermula sejak zaman nabi?

1. Sejarah Bubur Asyura
Tradisi Bubur Asyura yang Dipercaya dari Zaman Nabi
Anggapan tentang kehadiran bubur Asyura di masyarakat cukup bermacam-macam. Sebagian besar mengaitkannya dengan riwayat para nabi, dalam hal ini Nabi Nuh, Nabi Musa dan Nabi Muhammad Saw. Pada cerita Nabi Nuh, bubur ini dibuat sesaat setelah peristiwa banjir besar. Diceritakan bahwa bahan makanan yang ada di dalam kapal, semua dimasak menjadi satu, kemudian dibagikan kepada umat yang ikut naik ke dalam kapal. Bagaimana pun, cerita mengenai sejarah bubur Asyura ini, menjadi warna sendiri pada setiap perayaannya.

2. Tradisi Bubur Asyura di Berbagai Wilayah Indonesia
Bubur Asyura yang Terbuat dari Aneka Bahan
Di beberapa wilayah Indonesia, tradisi bubur Asyura punya banyak cerita. Di Banda Aceh misalnya, Masyarakat Aceh membuat tiga periuk bubur untuk santap berbuka di masjid dan dua lainnya dibagikan pada masyarakat sekitar. Masyarakat Aceh menggunakan umbi-umbian, santan kelapa, kacang hijau, labu kuning, dan bahan-bahan lain untuk membuatnya. Sedang di Banajarmasin, bubur puasa Asyura dibuat dari sayur dan kacang-kacangan. Sesuai tradisi warga Banjarmasin, semua bahan yang dicampur untuk membuat bubur harus berjumlah 41 macam. Wow!
sedangkan di Desa Pengkol Bubur Syuro di buat berdasarkan Kemampuan Masyarakat ada yang membawa bubur cetil, Bubur Kacang Hijau, Bubur Sumsum dan masih banyak lagi “yang penting kita ikhlas dalam bershodaqoh ” kata Wasito salah satu Tokoh agama di Desa Pengkol
selanjutnya setelah berdo’a bersama Masyarakat saling berbagi bubur tersebut tidak ketinggalan yang paling diutamaka adalah dibagikan kepada anak Yatim

3. Menjadi Ajang Mempererat Silaturahmi
Bubur Asyura Menjadi Ajang Mempererat Tali Silaturahmi
Bahan-bahan untuk melaksanakan tradisi bubur Asyura di setiap wilayah di Indonesia boleh saja berbeda. Namun, ada satu yang membuatnya sama, yaitu ia menjadi sarana dalam mempererat silaturahmi antar warga. Karena dibuat dalam porsi besar, warga di setiap wilayah di Indonesia bergotong-royong memasaknya. Dari mulai menyiapkan bahan, memotong hingga mengaduk bubur untuk mematangkannya dilakukan bersama-sama.

Tradisi bubur Asyura dan santunan Anak Yatim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *